Tampilkan postingan dengan label Catatan Alumni. Tampilkan semua postingan

Merenunglah Sejenak !

By: Samsul Basri

Bila engkau tidak menyibukkan hati, pendengaran dan penglihatanmu dalam kebaikan dan ketaatan, niscaya engkau akan disibukkan dalam kelalaian dan kemaksiatan.
Karena itu, jika jiwamu ingin mengajak kepada kemaksiatan, ingatkanlah ia kepada Allah. Jika belum mau kembali juga, ingatkanlah ia pada budi pekerti beberapa orang ternama. Kemudian, jika belum kembali juga, ingatkan pada aib yang akan menimpanya bila diketahui orang lain. Dan jika belum kembali juga, maka ketahuilah bahwa saat itu engkau telah menjadi seperti binatang, bahkan mungkin lebih sesat.
"Mereka memiliki hati, tapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, memiliki mata tapi tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tapi tidak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat dari binatang ternak. Mereka itulah orang-orang yang lalai" (QS. Al-A'raf : 179)
read more

Sifat Negatif Manusia

Oleh : Samsul Basri

Diantara Sifat Negatif Manusia
1.             Senang berbantah-bantah.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.  (QS.Al-Kahfi : 54)
2.             Tergesa-gesa. Termasuk tergesa-gesa menarik kesimpulan
“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. (QS. Al-Anbiya : 37)
3.             Suka berkeluh kesah lagi bakhil
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS.Al-Ma’aarij : 19)
4.             Amat zhalim dan bodoh
“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab : 72)
Saudaraku fillah, manusia bukanlah malaikat yang tidak berpeluang untuk bermaksiat, tapi dia juga bukan murni syaitan yang tidak berpotensi berbuat baik. Alangkah indahnya perkataan Yusuf a.s,
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf : 53)
Siapakah yang selamat dari sifat-sifat negatif di atas ???
Yang selamat adalah Ulul Albab (orang yang berakal).
Bagaimana karakteristik Ulul Albab ???
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ
Yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar : 18)

read more

Andakah Orang yang Berakal itu?

Oleh : Samsul Basri

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ
 “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah ulul albab (orang-orang yang mempunyai akal).” (Az-Zumar : 18)
Saudara seiman dan seaqidah, istilah “ulul albab” disebutkan oleh Allah sebanyak 16 kali di dalam Al-Qur’an, salah satunya terdapat pada ayat ini. Istilah ini dilabelkan kepada mereka yang memiliki sosok sangat istimewa di sisi Allah. Diantara keistimewaannya dapat digali melalui ayat ini. Akan tetapi sebelum jauh melangkah, berbicara mengenai ulul albab, agar cita rasa yang ditimbukan sangat terasa dan berkesan ketika lisan berhenti pada ucapan Ulul albab, perlu dilakukan pendekatan makna asli setiap katanya. “Ulu” artinya memiliki. Sedangkan “Albaab” diambil dari kata “lubbun” artinya intisari. Jadi lubb yang dimaksud di sini adalah intisari dari hati manusia. Bila dirinci kedudukan atau posisinya, maka yang pertama shadrun (dada), di dalamnya terdapat qalbun (hati), di dalam qalbun terdapat fuaadun (kedalaman hati), dan di kedalaman itu terdapat lubbun (inti).
Ulul albab adalah mereka yang dalam ayat ini disebutkan “Yang mendengarkan perkataan.” Selayaknya perkataan yang di dengar, tentu ada yang baik dan ada yang buruk. Ini adalah kondisi yang hampir tiap hari ditemui oleh seseorang dalam menjalankan roda kehidupannya bersama orang lain. Bedanya, ulul albab walaupun ia juga tidak selamat dari mendengarkan perkataan yang buruk, sia-sia, tetapi dia hanya “mengikuti apa yang paling baik di antaranya.”  Karena itulah Ibnu Abbas di dalam tafsir al-Qurthubi berkata ulul albab adalah seseorang yang mendengar perkataan yang baik dan juga yang buruk, akan tetapi ia berbicara hanya dengan perkataan yang baik dan benar saja, lalu meninggalkan pembicaraan yang buruk, sia-sia, dan tidak berguna. Di dalam tafsir as-Sa’di disebutkan bahwa mengikuti apa yang paling baik maksudnya adalah memilih untuk taat kepada Allah (membenarkan Al-Qur’an) dan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam (beramal dengan dalil).
Bila dikorelasikan dengan ayat Allah di surat Fushshilat ayat 33 yang bunyinya,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri?" (QS. Fushshilat : 33)
Telah dijelaskan ulul albab adalah mereka yang suka mendengar pembicaraan yang baik lalu mengamalkannya. Sedangkan surat fushshilat ayat 33 ini menjelaskan bahwa tidak ada lagi perkataan yang paling baik, paling tinggi kedudukannya kecuali perkataan yang isinya bernafaskan dakwah, seruan atau ajakan untuk ta’at kepada Allah. Dapat dipahami bahwa ulul albab berarti adalah mereka yang cinta terhadap ilmu dan majelis ilmu. Cinta yang juga terkandung makna sungguh -sungguh terhadap ilmu dan majelis ilmu, lalu mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya itu dalam kesehariannya.
Jangan heran bila dahulu para sahabat sebagai sampel ulul albab sering bertanya “Ya Rasulallah, ayyu amalin afdhal?” artinya Wahai Nabi Allah, amalan apakah yang paling terbaik?. “Ya rasulallah dallani ilaa amalin idza amiltu, ahabbaniyallaahu wa rasuuluhu” artinya wahai Nabi Allah, tunjukkanlah kami kepada suatu amal ? yang apabila kami mengamalkannya, Allah dan Rasul-Nya akan meridhai dan mencintai kami. hal itu karena mereka cinta kepada ilmu dan cinta untuk mempersembahkan yang terbaik dari amalan mereka.
Jadi karakter ulul albab adalah selalu melakukan yang terbaik. Dan karena yang dilakukan itu adalah sesuatu yang terbaik maka selalu hasilnya optimal. Dikisahkan mengenai seorang sahabat dalam kitab umdahtul ahkam, dimana ia disuruh oleh nabi mengulang shalanya sebanyak tiga kali, lalu nabi memberitahukan padanya mengenai pentingnya tuma’ninah dalam shalat. Artinya apa? Bahwa prinsip ajaran islam adalah harus it’qan. Itqan artinya terarah, tepat, jelas dan sesuai target atu singkatnya profesional. Sehingga dalam islam, prinsipnya memperhatikan proses dan bukan hasil.
Karena sifat tunduk dan taatnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan karena kesungguhannya untuk selalu di atas rel kebenaran, Allah Azza Wa Jalla berfirman, “Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah ulul albab (orang-orang yang mempunyai akal).”
Alhamdulillah, jelaslah sudah. Diantara sifat istimewa ulul albab atau orang yang berakal adalah selalu haus dengan Ilmu dan cinta suasana atau kondisi yang bisa mengantarkan dirinya kepada ilmu dan selalu mempersembahkan yang terbaik untuk Islam dan kaum muslimin. Apakah anda temasuk ulul albab ???
نسأل الله أن يجعلنا من اللذين يستمعون القول و يتبعون أحسنه
Kita berdoa kepada Allah semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendengarkan kebaikan dan mengamalkan kebaikan. (Amin yaa Rabbal ‘aalamin)

Bogor, 18 Sept 2013
Akhukum Fillah
Samsul Basri

read more

Selemah Rumah LABA-LABA

Oleh : Samsul Basri
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 41)
Ayat di atas memberi perumpamaan bahwa serapuh-rapuhnya sandaran atau selemah-lemahnya pertolongan adalah bagi siapa saja yang menjadikan selain Allah sebagai sandaran hidup atau pelindungnya. Seseorang yang menyandarkan hidupnya kepada harta, prestasi, popularitas, pangkat, jabatan dan kedudukan. Maka semua itu adalah sandaran yang rapuh, rapuh dan rapuh. Begitu banyak manusia stress, putus asa, kecewa bahkan nekat mengakhiri hidup karena sandaran yang dikejarnya tidak kunjung datang, bila didapatkan, sifatnya hanya sementara tidak bersifat abadi, bahkan terkadang sandaran itulah yang menjadi awal kehinaan baginya di dunia dan di akhirat.
Semua sandaran selain Allah ibaratnya adalah rumah laba-laba. Waktu, tenaga dan kerja keras yang dicurahkan guna mengejar dan mendapatkan sandaran selain Allah itu berarti semisal laba-laba yang sedang berusaha membangun rumahnya. Dan Allah menegaskan bahwa “Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba.”
Ada apa dengan rumah laba-laba?.. Bukankah unsur yang membangun rumah laba-laba adalah benang terkuat? Bukankah binatang yang selevel besarnya dengan laba-laba tak bisa lolos melepaskan diri bila terperangkap di dalamnya? Lantas kenapa rumah laba-laba yang disebut sebagai rumah yang paling lemah?
Kelemahan rumah laba-laba, bukan karena unsur atau struktur yang membangunnya. Bila itu yang dijadikan parameter, justru rumah laba-laba adalah rumah yang terkuat.  Kelemahannya adalah karena esensi kehidupan rumah tangga laba-laba rapuh dan sangat rapuh. Amatilah dengan teliti, dalam satu sarang hanya ada satu laba-laba, yaitu laba-laba betina. Dua laba-laba hanya akan terlihat dalam satu sarang bila laba-laba jantan ingin berhubungan dengan betina. Bila jantan sudah menyelesaikan hajatnya terhadap betina, ia harus segera pergi menjauh dari sarang. Jika tidak, ia akan diterkam dan dimangsa oleh betina. Bila laba-laba betina bertelur dan menetaskan telur-telurnya, maka anak laba-laba harus segera minggat secepatnya, karena ia juga akan segera diterkam dan dimangsa oleh induknya sendiri.
Singkatnya kehidupan rumah tangga laba-laba adalah kehidupan yang kacau balau, tidak ada ketenangan, ketentraman, kedamaian dan kerukunan dalam kekeluargaan. Yang ada adalah perselisihan, pertengkaran dan perang sesama anggota keluarga. Suami dan istri bertengkar, bercerai hingga berujung pada tewasnya salah satu dari mereka. Begitu sering terdengar dan terlihat di stasiun tv seorang suami menyiksa istrinya, membakar istrinya, menggorok leher istrinya bahkan memutilasinya. Atau istri yang memaki-maki suaminya, meracuninya, bahkan membunuhnya. Sisi yang lain, Anak-anak tidak mau taat terhadap orang tua, sukanya mabuk-mabukan, hambur-hambur uang, hidup glamour, pergaulan bebas, menghamili anak orang atau malah hamil di luar nikah, merasa lebih betah di luar rumah hingga terjerat narkoba dan mati mengenaskan. Semua ini dan contoh-contoh semisalnya menggambarkan kehidupan rumah tanggah yang rapuh sama dengan kehidupan rumah tangga laba-laba. Karena itulah pertahanan rumah laba-laba akan bobol bila angin bertiup kencang, atau ada tangan-tangan manusia yang mengusik dan merusaknya. Begitulah kehidupan seseorang yang dibangun tidak atas Iman dan Islam, sangat-sangat rapuh. Pertahanannya akan bobol cepat atau lambat seiring besarnya angin fitnah bertiup, dan dekatnya ia kepada manusia-manusia yang juga jauh dari Allah.
            Intinya, Siapa yang berpaling dari peringatan Allah, tidak menjadikan Islam sebagai bingkai kehidupannya, melalaikan ibadah dan menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang shaleh. Sebaliknya menggantungkan hidup kepada selain Allah, kepada harta, popularitas, jabatan dan kedudukan serta hal-hal yang dianggap bisa memuaskan syahwat. Lalu berusaha mengejarnya, maka tidaklah ia dapatkan di akhir perjalanannnya itu melainkan penderitaan dan kehinaan yang tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى . قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا .قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى .
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya adalah penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?. Allah berfirman: Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” (QS.Thaha : 124-126)
Semoga Allah memperbaiki kehidupan dunia yang merupakan negeri perbekalan bagi kita menuju akhirat sebagai negeri balasan atas perbekalan yang disiapakan. Menjadikan bagi kita dari kehidupan dunia ini tambahan kebaikan dan keberkahan. Menjadikan kematian sebagai akhir dari keburukan-keburukan. Dan semoga kita hidup dan mati karena Allah, dimasukkan dan dipertemukan di dalam surga-Nya. (Amin yaa Rabbal ‘aalamin)
Bogor, 17 Sept 2013
Akhukum Fillah

Samsul Basri
read more

Mengemban Amanah

Oleh : Samsul Basri, S.Si
إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا (٧٢)
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab (33) : 72)
Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip riwayat Ibnu Abbas r.a bahwa sebelum Allah menawarkan amanah kepada manusia lalu manusia menerima amanah tersebut,. Amanah itu telah ditawarkan kepada tiga mahluk terbesar (langit, bumi dan gunung) akan tetapi mereka menolak amanah bukan karena tidak mengharap keutamaan/kemuliaan yang Allah janjikan bagi yang mampu mengemban amanah dan bukan pula bentuk perlawanan kepada Allah karena tdak bersedia mengembannya. Lebih karena tawaran itu adalah “Pilihan” dan bukan perintah. Dan Allah telah menetapkan, siapa yang mengambil amanah lalu melaksanakan dengan sebaik-baiknya maka Allah akan meninggikan derajat dan memuliakannya, sebaliknya mengambilnya lalu mengabaikannya maka azab dan kehinaan Allah akan ditimpakan kepadanya. Karena itulah ketiga mahluk tersebut memilih menolak mengambil amanah karena takut kalau-kalau amanah itu tidak mampu diembannya.
Allah Azza Wa Jalla menegaskan kepada Adam a.s, “Hal anta aakhidzun bimaa fiiha ?” maksudnya apakah engkau memilih mengambil amanah dan siap atas konsekuensi yang terdapat pada amanah tersebut ?. Adam a.s, sebelum benar-benar memilih mengambil amanah, bertanya kepada Allah, “Ya Rabb, wa maa fiiha ?” wahai Rabb-ku dan apa konsekuensinya?. Kemudian dijawab oleh-Nya, “In Ahsanta juziita, wa in asa’ta ‘uqibta” yaitu Allah Azza Wa Jalla menjelaskan bila engkau menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya maka engkau akan dibalas dengan kemuliaan, dan sebaliknya bila mengabaikannya engkau akan diazab.
As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa amanah yang dimaksud dalam ayat ini adalah “امتثال الأوامر، واجتناب المحارم، في حال السر والخفية، كحال العلانية”  artinya melaksanakan segala perintah, dan menjauhi atau meninggalkan segala perkara yang diharamkan, baik dalam kondisi sepi, diam-diam ataupun dalam kondisi terang-terangan.
Bila merenungi ayat ini, akan memelekkan mata bahwa hidup di dunia ternyata bukan untuk bermain-main. Ada amanah yang harus dijalankan, berupa ketakwaan kepada Allah Azza Wa Jalla yang menjadi penentu layak tidaknya seseorang mendapat kemuliaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman-Nya,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ
“Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. al-Mu’minun : 115)
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS.Adz-dzariat : 56)
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. al-Hujurat : 13)
Amanah bukan hanya dalam kaitannya manusia kepada Allah tapi juga antara manusia dengan manusia. Karena amanah adalah ibadah dan ibadah itu sebagaimana defenisi para ulama, mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah baik ucapan ataupun perbuatan, yang nampak atukah yang tidak nampak. Bila seseorang memilih menjadi pedagang, tenaga pengajar (guru/dosen), sebagai direktur di sebuah perusahan atau instansi, mencalonkan diri sebagai pegawai pemerintah, hingga menjadi pejabat pemerintah dlsb, berarti memilih mengambil amanah di tengah-tengah manusia. Bila amanah ini dijalankan dengan sebaik-baiknya maka pujian Allah, kemuliaan dan keagungan-Nya akan diberikan padanya namun bila amanah ini tidak dijalankan sebagaimana seharusnya, yang terjadi adalah pasti ia melakukan kezaliman dan kebodohan dan Allah akan menghukum serta menghinakannya di dunia dan di akhirat.
Di dalam Al-Qur’an, disebutkan 4 sifat utama seseorang yang mampu menjalankan amanah dengan baik, yang dengan sifat ini tidak akan terjadi kezaliman dan kebodohan, bahkan As-Sa’di dalam menafsirkan ayat 26 surat al-Qashash menyebutkan bahwa sifat-sifat tersebut harus diperhatikan oleh seseorang yang ingin memberikan amanah kepada orang lain. Adapun sifat-sifat tersebut adalah Hafidzhun, ‘aliimun, qawiyyun dan amiinun.
Dua sifat yang pertama Hafidzhun dan ‘aliimun terdapat di surat Yusuf ayat 55. Ketua BAZNAS, Prof. Didin Hafidhuddin menjelaskan bahwa pada sifat Hafidzhun (mampu menjaga) terkandung di dalamnya nilai moral, kejujuran, etika, sungguh-sungguh dan istiqamah dalam menjalankan tugas. Dan ‘aliimun artinya berilmu atau memiliki keahlian dalam mengemban amanah yang dipundakkan kepadanya.
Adapaun dua sifat yang terakhir qawiyyun dan amiinun terdapat di surat al-Qashash ayat 26. Al-qawiyy artinya kuat, maksudnya mampu mengemban amanah, memiliki prinsip yang kuat sehingga tidak terjatuh pada kelalaian, kecurangan, korupsi, nepotisme, sogokan dan berbagai hal buruk lainnya yang diharamkan. Al-Amiin artinya terpercaya, maksudnya tidak akan berkhianat atau melakukan penipuan atas apa yang diamanahkan kepadanya.
Semoga Allah menanamkan empat sifat mulia ini ke dalam hati dan menyuburkannya dengan siraman cinta dan kasih sayang dari-Nya, hingga tumbuh bersemi amal-amal shaleh dengan akar akidah yang menancap kuat dan kokoh. Sehingga pemilik hati ini barada dalam barisan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits riwayat Imam Ahmad,
أربع إذا كن فيك فلا عليك ما فاتك من الدنيا حفظ أمانة وصدق حديث وحسن خليقة وعفة طعمة

“Empat perkara jika keempatnya ada padamu maka tidak ada kerugian atas dirimu dari apa yang hilang dari kenikmatan dunia : menjaga amanah, jujur dalam ucapan, bagusnya akhlak, dan menjaga harga diri.” (HR. Imam Ahmad)
read more

Mengenal SIFAT SOMBONG

Oleh : Samsul Basri, S.Si
Dalam kitab bidayah wannihayah, Ibnu Katsir mengutip riwayat Ibnu Abbas r.a bahwa nama Iblis sebelum melanggar perintah Allah adalah 'Azazil. penyebutan Iblis adalah ketika ia menolak melaksanakan perintah. Iblis berasal dari kata "ablasa-yublisu-iblisan" yang artinya adalah mahluk yang membangkang/ingkar.
Dua sifat asasi 'Azazil sehingga disebut Iblis sampai hari kiamat:
1.             Menolak kebenaran, yaitu menolak melaksanakan perintah Allah ketika diperintah bersujud kepada Adam a.s. (liht. QS.albaqarah:34)
2.             Merendahkan Adam a.s, yaitu dengan mengatakan "saya lebih baik dari Adam" (liht. QS. al-a'raf : 12)
Saudaraku dua sifat inilah yang diisyaratkan oleh Nabi SAW, sebagai sifat "Kesombongan" yaitu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. parahnya, sebagaimana Nabi saw mengingatkan bahwa seseorang tdk akan masuk ke dalam surga bila ada secuil kesombongan di dalam hatinya.

Semoga Allah menolong dan menjaga kita dari sifat SOMBONG.
read more

MENYIKAPI MUSIBAH DI KENDARI



Oleh : Samsul Basri, S.Si
Allah Azza Wa Jalla berkalam,
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Anqabut : 64)
Bila anda termasuk diantara yang menyaksikan secara langsung atau tidak langsung sederetan musibah yang baru-baru ini menimpa kota kendari hampir secara bersamaan selasa 7 ramadhan 1434 H bertepatan 16 Juli 2013, tentulah anda membenarkan bahwa di sana terjadi musibah kebakaran, tanah longsor dan terparah adalah banjir yang melanda 12 kecamatan dan menutup jalan-jalan sentral kota kendari.  Kondisi ini hanyalah sampel atau tepatnya gambaran kecil sebelum musibah sebenar-benarnya terjadi yaitu musibah di akhirat.
Musibah dunia hanyalah senda gurau dan main-main, tiada keabadian atau kekekalan di dalamnya. Hidup manusia di dunia dengan berbagai kesenangan dan kesedihan, kelebihan dan kekurangan, sukses dan gagal, mudah dan sulit akan selalu dipergilirkan oleh Allah. Yang paling penting bagi seorang hamba adalah kemampuan membaca ayat-ayat Allah lewat setiap kejadian,
إِنَّ فِي اخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ
“Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.” (QS. Yunus : 6)
read more

Menuntut Ilmu Di Waktu Kecil



Oleh : Syaikh. Dr. Nashir bin Sulaiman al-Umar
diterjemhakn o/ Samsul Basri, S.Si
Sungguh diantara sebaik-baik nasehat yang kami ketengahkan kepada para pemuda adalah anjuran untuk menerima/ menimba ilmu di usia mudanya. Masa muda adalah kesempatan yang berharga dan sangat tepat bagi orang yang berakal untuk memanfaatkannya. Karena boleh jadi sesuatu yang mampu ia lakukan hari ini, tidak mampu ia lakukan di hari esoknya.
Para ulama banyak mengangkat suara dalam masalah ini. Mereka menekankan betapa pentingnya menuntut ilmu di usia dini (muda). Mengenai keutamaan belajar di masa muda dibandingkan belajar di masa tua, Al-Hasan berkata : “Menuntut ilmu di usia muda bagai mengukir di atas batu”.[1] Dan ‘Alqamah berkata : “Adapun mengenai apa yang saya hafal di kala muda,  maka sungguh aku seperti melihat hafalan itu tertulis dalam kertas”.[2] Tentu hal itu dikarenakan kuat hafalannya.
Al-Hasan bin Ali berkata kepada anaknya dan kedua ponakannya : “Belajarlah ilmu, kalaulah sekarang ini status kalian rendah di suatu kaum, kelak di hari esok dengan ilmu akan menjadi pembesar kaum. Maka bagi yang belum menghafal hendaklah menulis.”[3]
الـعلم صيد والكـتـابـة قـيـده


قيـد صيـودك بالحبـال الواثقه
وتتركهـا بيـن الخلائق طالقـه


فمـن الحماقــة أن تصيد غزاله
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.
Ilmu itu buruan dan tulisan adalah ikatannya.
Adalah kebodohan engkau menangkap rusa.
Lalu melepaskannya bebas diantara kawanan binatang.
Urwah bin Zubair berkata kepada anaknya : “Mendekatlah padaku, dan belajarlah dariku, maka sungguh kalian tidak lama lagi akan menjadi pembesar kaum. Dahulu  ketika kecil tidak seorang pun melihatku, tetapi ketika aku benar-benar mencapai usia dewasa, manusia mulai bertanya padaku. Dan tidak ada sesuatu yang lebih buruk bagi seseorang yang ditanya mengenai urusan agamanya tetapi dia jahil tentangnya.”[4]
Dan diriwayatkan dari Lukman, ia berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, muliakanlah para ulama, rapatilah mereka dengan kedua lututmu, sesungguhnya Allah menghidupkan hati dengan hikmah sebagaimana Ia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan lebat.[5] Wahai anakku jangan pelajari ilmu untuk menyaingi para ulama, untuk mendebat orang-orang bodoh, dan berlaku ria di hadapan orang-orang yang bermajelis.[6] Jangan tinggalkan ilmu karena zuhud terhadapnya, atau karena cinta pada kebodohan. Wahai anakku, pilihlah majelis-majelis di depanmu, apabila engkau mendapati suatu kaum berdzikir kepada Allah, duduklah bersama mereka. Sungguh sekiranya engkau berilmu, maka ilmumu akan sangat bermanfaat bagimu. Sebaliknya, bila engkau jahil (bodoh) maka ilmumu sama sekali tidak memberi manfaat, dan bila tetap dalam kebodohan, maka bertambahlah kesesatanmu.[7] Wahai anakku, sesungguhnya hikmah (kebijaksanaan) adalah engkau memposisikan kedudukan orang-orang miskin sama dengan engkau memposisikan para raja.”[8]
Perkataan terakhir di atas, sangat jelas implementasinya bagi siapa yang telah membaca sejarah dan kehidupan para ulama. Sungguh kebanyakan para ulama hidup bersama orang-orang miskin, dan orang-orang lemah yang kurang mendapat perhatian. Padahal mereka telah mendapat posisi mulia dalam mejelis para raja, yang seseorang belum tentu memiliki kepekaan yang sama bila duduk dalam majelis kemuliaan itu. Tak heran bila para ulama mendapat kedudukan dalam mejelis-mejlis yang lebih besar dari majelis para raja yaitu hati-hati manusia.
Dan Lukman menambahkan: “Sebagaimana para raja membiarkan untuk kalian hikmah (kebijaksanaan). Maka biarkanlah bagi mereka dunia.”[9]
Inilah  Bisikan yang kami hembuskan ke telinga para pemuda kami, dan hari libur semakin dekat berakhirnya. Ruang pertemuan belajar pun telah siap menyambut mereka, ketahuilah bahwa diantara generasi kita itu, semoga kita melihat Ibnu Abbas, Ibnu Umar baru di zaman ini, Ibnu hayyan atau Ibnu nafis, dan nama-nama yang lain.
Judul Asli         : Al-Ilmu fii as-Sighar.
Penulis             : Syaikh. Dr. Nashir bin Sulaiman al-Umar.
Judul                : Menuntut Ilmu di waktu Kecil.
Penerjemah      : Samsul Basri, S.Si





[1] Al-madkhal Ila as-Sunanil Kubra, no 640, dan berkata al-Muhakik : Ibnu Abdil Bar meriwayatkannya pada penjelasan ilmu 1/82.
[2] Al-madkhal Ila as-Sunanil Kubra, no 642, dan al-Muhakik menguatkannya kepada Ibnu Sa’ad pada at-Thabaqaat 6/87 dari al-Hamaniy.
[3] Al-madkhal Ila as-Sunanil Kubra, no 642, dan al-Muhakik menguatkannya kepada Ibnu Abdil Bar 1/82 dengan sanadnya dari Abdullah bin al-Imam Ahmad.
[4]  Penjelasan Ilmu dan keutamaannya oleh Ibnu Abdil Bar.
[5] Al-madkhal Ila as-Sunanil Kubra, no 445, dan al-Muhakik menguatkannya kepada Ibnu Abdil Bar pada penjelasan Ilmu 1/106.
[6] Apa yang telah lewat dari atsar ini adalah makna hadits dari Rasulullah s.a.w, beliau bersabda : “janganlah kalian mempelajari ilmu untuk menyaingi para ulama, berdebat dengan orang –orang bodoh, dan berlaku ria dalam majelis, siapa yang berbuat demikian maka dicampakkan dalam neraka”. Diriwayatkan oleh Hakim dalam al_mustadrak 1/86, dan awalnya diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam al-Muqaddimah 254/1, dan berkata dalam kitab az-Zawaaid : para perawi hadist sanadnya terpercaya. Dan diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya.
[7] Jaami’u Bayaani al-Ilmi wa Fadhluhu.
[8] Ibid.
[9] Ibid.
read more